Pelajari Konsep Ternak Sapi, Pemkab Sintang “Berguru” ke Manggarai Barat

oleh -278 views
Pemkab Sintang Melakukan Kunjungan Ke Manggarai Barat

SINTANG | Sintangpost.com- Untuk lebih mengetahui cara berternak sapi yang benar, pemerintah Kabupaten Sintang melakukan kunjungan kerjanya ke Pemkab Manggarai Barat Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Rombongan yang dipimpin langsung Seketaris Dearah Sintang Yosepha Hasna beserta rombongan disambut hangat oleh Wakil Bupati Manggarai Barat Drh. Maria Geong di Kantor Bupati Manggarai Barat, Senin (4/11/2019).

Menurut Yosepha Kunjungan kerja ini bertujuan ingin melihat langsung cara belajar pengembangan peternakan kerbau dan sapi di Kabupaten Manggarai Barat.

“Di Manggarai Barat ini peternakan sapi diusahakan oleh kelompok keluarga atau rumah tangga. Setiap keluarga beternak sapi minimal 5 ekor. Untuk pakan ternak mereka tidak sulit, karena penduduk disini juga petani padi dan jagung. Selain rumput, ternak diberikan juga jerami padi dan batang jagung yang sudah panen digunakan untuk pakan kerbau dan sapi,” kata Yosepha.

Menurut Yosepha kedepan Pemkab Sintang akan merencanakan untuk mengembangkan ternah sapi yang dilakukan oleh para petani atau keluarga di SIntang.

“Kita melalui Bidang Peternakan akan mencoba mengadopsi cara dan sistem yang sudah diterapkan oleh Pemkab dan masyarakat Manggarai Barat ini. Nantinya konsep pengembangan ternask sapi ini akan dijadikan percontohan untuk masyarakat Sintang dengan konsep yang sama,”jelas Yosepha.

Terpisah Wakil Bupati Manggarai Barat Drh. Maria Geong menjelaskan bahwa jenis sapi potong di Manggarai Barat merupakan sapi potong bali dan sapi potong timor. Untuk proses perternakannya, Sapi bali di pelihara di kandang, sementara sapi timor di lepas.

“Selain sapi peternakan kerbau juga besar disini, dimana pemeliharaan ekstensi di lembor selatan paling besar untuk populasi kerbau, yakni 15 ribu ekor sapi potong bali dan 17 ribu ekor kerbau,”jelasnya.

Selain itu lanjutnya ntuk hasil perternakan baik sapi maupun kerbau tiap bulan dikirim ke antar pulau, dimana kerbau paling banyak dikirim ke Sulsel yang di digunakan untuk upacara adat. Sementara sapi potong banyak di kirim ke pulau Jawa.

“Sekarang pengiriman antar pulau karena ada kebijakan Pemerintah pusat untuk melindungi ternak asli daerah. Terlebih juga disini Bebas penyakit reproduksi ternak sapi, jadi bisa kirim bibit keluar, sementara untuk konsumsi sapi di menggarai barat ini sangat kecil,”ungkap Maria Geong.

Pemkab Manggarai Barat sendiri kata dia lebih fokus pada pengembangan bibit sapi dan kerbau, yang rencana selanjutnya akan di kembangkan di Siru, Kecamatan Lembor.

“Pemda Manggarai Barat menyediakan pendampingan kepada petani berupa sosialisasi dan penyiapan imunisasi hewan yang baru lahir setiap tahun untuk menghindari penyakit Antrax. Setiap kerbau atau sapi yang lahir diberikan identitas untuk menandai bahwa kesehatan hewannya terjamin,”tukasnya. (okt)