DAD Sintang Minta Enam Petani Peladang Dibebaskan, Jeffray: Petani Bukan Penjahat

oleh -467 views
DAD Sintang Melakukan Audiensi Dengan Jajaran Kejari Sintang Untuk Mencari Solusi Petani Peladang yang Ditahan

SINTANG | Sintangpost.com- Puluhan masyarakat adat yang tergabung dalam Dewan Adat Daerah (DAD) Kabupaten Sintang mendatangi Kejaksaan Negeri Sintang, Senin (11/11/2019). kedatangan mereka menuntut enam petani peladang yang ditahan oleh kepolisian beberapa waktu lalu untuk dibebaskan.

“Kami minta petani yang ditahan segera dibebaskan,”kata Andreas salah satu pengurus DAD Kabupaten Sintang.

Andreas mengatakan berladang adalah kegiatan sekaligus kearifan lokal masyarakat yang tujuannya untuk bertahan hidup.

Menurutnya berladang dengan cara membuka lahan, cara tradisional (membakar) sudah dilakukan masyarakat secara turun-temurun.

“Kami minta supaya ada kebijakan dari Kajari Sintang untuk bisa membebaskan petani peladang yang sudah ditahan,”jelasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Tumenggung Adat Dayak Kabupaten Sintang Menyawai Usman. Menyawai mengatakan bahwa pihaknya meminta agar enam petani peladang  yang diamankan segera dilepaskan.

“Hukum kita ini tajam dibawah, tumpul di atas. Menangkap kami yang dibawah yang memang kesehariannya berladang dan itu sudah dilakukan sejak dari dulu. Jika ingin menangkap, tangkap semuanya, jangan hanya petani saja,” tegasnya.

Menyawai Usman mengatakan bahwa berladang yang dilakukan masyarakat adalah tradisi dari zaman dahulu yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Itu sumber penghasilan kami. Kalau tak berladang, makan apa kami, tak mungkin kan kami merampok? Kami berladang ini bukan untuk cari kaya,” katanya.

Ango, Istri dari Antonius Subianto (40) yang merupakan salah satu warga peladang yang ditahan karena kasus pembakaran mengharapkan suaminya dapat segera dibebaskan. Pasalnya, Antonius merupakan tulang punggung keluarga.

“Dia itu tulang punggung keluarga, mana orangtua kami sakit. Bapak kami sakit pernapasan, yang tiap minggu harus membeli obat, belum lagi jika sedang kambuh, bisa mengeluarkan biaya yang tidak sedikit karena harus pasang oksigen dan hal lainnya,” katanya.

Ango mengatakan bahwa anak perempuan mereka yang masih mengenyam pendidikan di salah satu SMP di daerah Binjai, enggan bersekolah dan setiap harinya selalu menangis semenjak Bapaknya, Antonius ditahan pada Selasa malam lalu (5/11/2019).

“Untuk kesini, kami pinjam uang Gereja, sudah tak ada uang sama sekali. Makan hanya pakai nasi saja, minyak goreng pun sudah tak ada di rumah. Bingung kami mau dapat uang dari mana, belum lagi kami ada kredit,” tuturnya.

Ango mengaku aneh karena selama ini dirinya berladang tak pernah sampai tersandung hukum. Terlebih lagi, berladang yang dilakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

“Kasusnya pada Bulan Agustus, namun ia hanya tahanan luar, sudah enam hari ini ditahan, sejak selasa kemarin. Anehnya, kenapa baru saat ini ditahan, dari nenek moyang dulu berladang tak pernah bermasalah,” katanya.

Ketua DAD Kabupaten Sintang, Jeffray Edward mengungkapkan bahwa inti dari kedatangan pihaknya ke Kejaksaan Negeri Sintang adalah meminta keenam terdakwa kasus Karhutla dapat dibebaskan.

“Mereka ini masyarakat kecil yang memang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan cara berladang. Ini yang harusnya menjadi pertimbangan dari pihak berwenang sebab petani bukanlah penjahat,” katanya.

Jeffray mengaku sudah berupaya agar proses hukum untuk keenam terdakwa ini dapat dilakukan sembari melihat sisi manusiawi. Pasalnya, keenam terdakwa ini merupakan tulang punggung keluarga bahkan ada yang telah berusia senja.

“Kita menghormati proses hukum yang ada. Kita juga sudah melakukan upaya dari awal, dengan melayangkan surat agar proses hukum keenam warga kami ini dapat dipertimbangkan,”jelasnya.

Sementara itu Kajari Sintang Imran mengatakan perkara karhutla merupakan kewenangan ada di kejaksaan tinggi. Imran mengakui apapun hasil tersebut akan dijadikan acuan pihaknya dalam menangani kasus karhutla.

“Jadi segala sesuatunya akan kami sampaikan ke Kejati untuk dijadikan acuan dalam menangani perkara ini,”jelasnya.

Terkait penahanan enam orang petani peladang, Imran mengatakan bahwa saat ini perkaranya sudah dilimpahkan ke pengadilan Sintang untuk disidangkan.

“Sidangnya belum, cuma masih menunggu jadwal yang sudah ditentukan dan kita mengikuti mekanisme yang ada,”singkatnya. (okt)