Askiman: Rumah Betang Tempat Bertemu Orang Dayak

Wakil Bupati Sintang Askiman Menancapkan Tiang Pertama Rumah Adat di Binjai

SINTANG | Sintangpost.com- Wakil bupati SIntang Askiman mengatakan Rumah Adat merupakan tempat bertemunya orang-orang dayak. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Bupati Sintang, Askiman ketika melakukan penancapan tiang pertama pembangunan Rumah Adat Desa Binjai Hilir Kecamatan Binjai Hulu, Kabupaten Sintang, Sabtu lalu (23/9).

“Dengan adanya rumah adat betang ini, marilah kita semua tokoh adat mulai berpikir bahwa rumah adat ini adalah miniatur kehidupan budaya terdahulu. Dimana di rumah betang ini, kita hidup berdampingan dengan rasa kekeluargaan, gotong royong dan saling menjaga sehingga tercipta rasa nyaman dan aman,” ujarnya.

Ia berharap usai pembangunan rumah adat Betang yang ditargetkan selesai pengerjaannya pada awal tahun 2018 ini, dapat membangkitkan kembali rasa kebersamaan dengan semakin sering berdiskusi untuk menjadikan Kabupaten Sintang menjadi lebih baik. Tak hanya itu, ia mengharapkan rumah adat betang dapat difungsikan bersama-sama sebagai bentuk pelestarian seni, budaya dan adat istiadat setempat dan sekitarnya.

“Untuk persiapan peralatan dan material, sudah siap 90% sehingga Pemkab Sintang tidak perlu lagi membantu dari segi pendanaan, tinggal dalam rangka pelaksanaan saja. terlebih lagi ada satu anggota DPRD yang turut andil dalam pembangunan ini,” ucapnya.

Ketua DPRD yang juga sekaligus Ketua DAD Kabupaten Sintang, Jefray Edward mengapresiasi apa yang sudah di lakukan masyarakat adat Desa Binjai Hilir atas semangat gotong royong dalam pembangunan rumah adat betang. Untuk itu, ia berharap, pembangungan rumah adat betang nanti dapat berjalan lancar tanpa kendala yang berarti.

“Saya harap masyarakat dapat kompak dan bergotong royong dalam pembangunan rumah adat betang ini. Tujuannya agar rasa kebersamaan kembali terjadi sehingga target penyelesaian awal tahun 2018 mendatang dapat tercapai,” tuturnya.

Ketua panitia pembangunan rumah adat Betang Desa Binjai Hilir, Lukas Buan mengatakan rumah betang ini berukuran 8x15 meter, yang didirikan di atas lahan seluas 25x70 meter. Dana yang diperkirakan selesai nanti yakni mencapai 200 hingga 300 juta rupiah dan di targetkan selesai awal 2018 mendatang dengan sistem kerja gotong royong warga setempat.

“Untuk material dan peralatan sudah tersedia, hanya untuk anggaran, di panitia baru terkumpul Rp 50 Juta saja. Tentu ini masih kurang, kami akan berusaha untuk mencarikan anggaran lain. Untuk itu, kami berharap pihak terkait dapat membantu mewujudkan harapan besar warga untuk memiliki rumah adat betang,” tukasnya. (yul)