Jaga Tradisi dan Budaya, MABM Launching Bidar Pelangi Jubair
SINTANG | SintangPost.com – Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sintang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sintang menggelar launching Kapal Wisata “Bidar Pelangi Jubair” di Taman Bungur Sintang, Kamis (20/02/2020).
Ketua DPD MABM Kabupaten Sintang, Ade Kartawidjaja mengungkapkan cita-cita besar MABM Kabupaten Sintang adalah menjaga adat Melayu yang salah satunya adalah melestarikan tradisi yang memanfaatrkan sungai.
“Saat ini, banyak masyarakat yang tak lagi memanfaatkan sungai secara prioritas, kalau dulu, semuanya menggunakan sungai, tak hanya untuk kebutuhan sehari-hari namun juga transportasi. Maka kami membuat kapal wisata ini untuk menjaga kelestarian akan tradisi dan budaya Melayu,” ujarnya.
Ade menyampaikan Kapal Wisata ini diberikan nama Bidar Pelangi Jubair ini berukuran Panjang 20 meter, lebar 6.5 meter dengan ketinggian 7 meter yang dapat menampung atau membawa penampung 120 penumpang ini sudah dilengkapi dengan kelengkapan yang telah sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Bidar adalah kapal besar. Pelangi adalah lambang kemajemukan kita. Sementara Jubair adalah tokoh lampau yang menjadi sentral. Kapal ini diharapkan mampu menyatukan perbedaan yang menjadi modal pembangunan daerah. Nantinya, bisa dinaiki siapapun dengan biaya Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per penumpang,” katanya.
Ketua Umum DPP MABM Provinsi Kalimantan Barat, Chairil Effendi yang juga hadir pada launching tersebut mengaku bangga dengan adanya Bidar Pelangi Jubair. Ia berharap dapat menjadi salah satu pemersatu bangsa yang nantinya dapat digunakan oleh masyarakat.
“Ini adalah bentuk kepedulian Melayu dalam menjaga persatuan dan kesatuan yang ada di Kabupaten Sintang khususnya karena yang kita ketahui bahwa daerah Sintang merupakan daerah yang masyarakatnya sangat majemuk,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan Pelangi yang dimaksud adalah Kabupaten Sintang sebagai tempat meleburnya segala kemajemukan yang ada menjadi satu kesatuan.
“Seperti yang kita ketahui, Sintang adalah tempat berkumpulnya berbagai suku, ada Melayu-Dayak yang merupakan penduduk asli, Tionghwa, Nusa Tenggara Timur yang juga sebagai guru pertama dan berperan penting dalam meningkatkan kecerdasan masyarakat serta Jawa yang juga terdiri dari berbagai profesi,” katanya.
Sementara Jubair, lanjut Jarot, merupakan tokoh pendiri Sintang yang tidak boleh luput dari ingatan.
“Jadi, Bidar Pelangi Jubair ini memberikan kesan bahwa kita tidak mudah melupakan sejarah dengan segala kemajemukan yang ada dan bisa membuktikan kita bisa hidup damai dengan segala perbedaan,” pungkasnya. (Coe)









Komentar