Jarot : Hutan Adalah Sumber Penghidupan
JAKARTA | SintangPost.com – Pemerintah Kabupaten Sintang berkomitmen menyelaraskan kebijakan untuk melindungi hutan dan lingkungan bagi generasi masa depan. Hal tersebut diungkapkan Bupati Sintang, Jarot Winarno saat menjadi pembicara di forum SDG talk Vol.10 yang digelar di Green House Coworking Space Multivision Tower lantai 25, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa lalu (25/02/2020).
“Kabupaten Sintang telah memiliki konsep rencana aksi daerah Sintang Lestari tahun 2030 dengan mempersiapkan Perda Pengakuan Hukum Adat dan Lembaga Adat. Kita juga telah memiliki Perbup mengenai cara membuka lahan dengan tidak membakar atau dengan membakar,” ujarnya.
Menurut Jarot, Sustainable Development Goals (SDG) atau pembangunan yang berkelanjutan tidak akan tercapai tanpa melibatkan masyarakat yang paling bawah. Hal tersebut sesuai dengan tema yang diangkat pada Forum SDG Vol. 10 kali ini yaitu “Saving Our Forest Beyond Forest State, Indigenous Communities and Climate Change”
“Pemerintah saja tentu sangat sulit untuk menjaga kelestarian hutan, jadi perlu ada keterlibatan masyarakat. Untuk itu, untuk pembangunan yang berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Sintang saat ini berupaya melakukan konservasi lingkungan, membangun ekonomi masyarakat dan pembangunan sosial budaya termasuk adat istiadat,” katanya.
Pada kesempatan ini, Jarot juga menyampaikan bahwa hingga saat ini, Ensaid Panjang yang terletak di Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang yang merupakan daerah penghasil tenun masih menjaga kelestarian alam salah satunya adalh menjaga hutan yang merupakan sumber kehidupan.
“Hutan adalah sumber penghidupan. Itulah yang dirasakan oleh masyarakat di Ensaid Panjang, Kecamatan Sintang. Karena dihutan, ada beberapa tanaman yang merupakan bahan baku pembuatan kain tenun mereka, jika menjaga hutan dengan baik maka akan menghasilkan karya yang lebih baik pula,” ucapnya.
Untuk itu, lanjut Jarot, Pemerintah Kabupaten Sintang bersama stakeholder terkait, masyarakat adat dan komunitas masyarakat yang berada di kawasan hutan berupaya untuk menanamkan rasa menyayangi alam sekitar pada masyarakat luas.
“Kita harus menganggap hutan adalah Bapaknya, tanah adalah Ibunya, air adalah darahnya. Maka timbullah rasa memiliki. Hidup dari hutan dan hidup dari hasil hutan,” pungkasnya.
Selain Bupati Sintang, juga hadir menjadi pembicara pada Forum SDG Vol.10 ini yakni Bandi Apai Janggut yang kenal sebagai Tuai Rumah Betang Sungai Utik atau dari Komunitas Dayak Sungai Utik Kabupaten Kapuas Hulu penerima penghargaan Recipient of UNDP Equator Prize 2018 dari PBB, Kristiana Banang yang juga dari Komunitas Dayak Sungai Utik Kabupaten Kapuas Hulu dan sejumlah pembicara lainnya. (Coe)









Komentar