Pemkab Gelar Silahturahmi, NKRI Harga Mati
SINTANG | Sintangpost.com- Bertempat di di Pendopo Komplek Rumah Jawatan Bupati Sintang, pemerintah kabupaten Sintang menggelar silaturahmi Kebangsaan. Acara yang diikuti tokoh pemuda, ormas yang ada di Sintang tersebut di hadiri oleh bupati Sintang serta jajarannya, Senin (16/5).
Bupati Sintang Jarot Winarno menyambut baik silaturahmi kebangsaan. tersebut menurutnya, silahturahmi sangat penting sebagai bagian untuk meningkatkan peran kemasyarakatan dalam pembangunan.
“Kita diberi niat untuk berkumpul di sini untuk sama-sama memikirkan nasib negeri ini, melihat banyak yang hadir saat ini, menunjukkan kita benar-benar konsern dengan situasi kita saat ini, kata Jarot.
Dalam kesempatan tersebut Jarot juga mengingatkan spirit kesatuan yang masih tinggi yang ada di Sintang perlu sangat diapresiasi secara positif dan perlu disyukuri. Hal ini berkaitan dengan sedang maraknya ujian terhadap kebhinekaan di berbagai daerah di Indonesia.
“kita berkumpul dalam rangka meneguhkan kembali dan mengukuhkan semangat bahwa Sintang adalah tempat yang aman dan damai di dalam Sintang yang majemuk,” kata Jarot.
Ketua DPRD sekaligus ketua Dewan Adat Dayak (DAD) di kabupaten Sintang, Jeffray Edward menyatakan bahwa masyarakat Sintang sudah dikenal sebagai masyarakat yang damai dalam kemajemukkannya. Setiap orang memiliki latar belakang yang beragam.
“Saya percaya seluruh masyarakat Sintang meninginkan kedamaian ada di Kabupaten Sintang ini,” kata Jeffray. “Harapan saya mari kita sama-sama menjaga kondisi yang ada di Kabupaten Sintang,” tambahnya.
Uskup Sintang Mgr. Samuel Oton Sidin, Ofm.Cap memulai arahannya dengan mengingatkan para peserta dengan pertemuan konsili Vatikan II dalam sejarah gereja Katolik.
“Dalam salah satu dokumennya, Konsili vatikan II menekankan pentingnya kebebasan beragama bagi setiap insan manusia, ini merupakan patokan universal yang diterapkan di seluruh dunia,” terangnya.
Sebagai tokoh Agama, dirinya menghimbau agar umat dapat menghargai perbedaan agar masyarakat dapat bersatu.
“kita bisa saling menghargai, kalau saya mampu menghargai orang lain yang berbeda dari saya, saya bisa bergandengan tangan dia, saya bisa mengerti dia berbeda dari saya namun hal itu juga menjadi landasan untuk membangun kehidupan bersama di Kabupaten Sintang,” tegas uskup Sintang itu. (evy/red)









Komentar