Direktur RSUD Bantah Terlantarkan Pasien

Direktur RSUD Ade M Djoen Sintang, Dr. Rossa

Direktur RSUD Ade M Djoen Sintang, Dr. Rossa
Direktur RSUD Ade M Djoen Sintang, Dr. Rossa

SINTANG | SINTANGPOST.COM – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ade M Djoen Sintang, dr. Rossa membantah bila pihaknya telah menelantarkan atau tidak tanggap dalam menangani pasien percobaan bunuh diri YS (27), Senin (19/1) kemarin. Begitu juga terhadap penanganan medis istri pasien Sn (18) yang meninggal saat melahirkan.

“Kita sudah menangani pasien tersebut sesuai prosedur yang tepat dalam tindakan medis. Penanganan awal kita harus memperbaiki keadaan umum terlebih dahulu. Kita harus melihat kondisi tensi, denyut nadi, pernapasan dan lainnya harus dipersiapkan semua.” ujar dr Rossa Selasa (20/1) saat ditemui wartawan diruangannya.

Diketahui, pasien YS kemarin sore melakukan upaya pencobaan bunuh diri dengan menusukan pisau ke perutnya, yang tindakan tersebut dilakukannya akibat depresi yang dilandanya pasca mengetahui istri dan anak yang dikandungan istrinya meninggal dunia. kini kondisi Ys sudah berangsur membaik.

“Pasien sudah membaik, dokter bedah langsung datang, kita telah lakukan tindakan sesuai prosedur yakni melakukan operasi setelah keadaan umum pasien membaik,” jelasnya.

Tadi pagi, lanjutnya, pasien dicek kembali, tidak ada kondisi bagian tubuh rusak pasien yang terluka. Hanya bagian otot dan kulit yang mengalami luka akibat tusukan benda tajam.

“Pasien sudah dapat diajak bicara, dan masih dalam perawatan, beban psikis masih nampak dialami pasien,” katanya.

Terkait meninggalnya istri pasien, SN(18) dr. Rossa menjelaskan, pasien yang tengah mengandung 7 bulan masuk kerumah sakit sudah dalam keadaan demam. Setelah melalui pemeriksaan diketahui anak yang dikandungannya telah meninggal. Lalu dibawa keruang ICU untuk mendapatkan perawatan instensif.

“Bayi dalam kandungan sudah meninggal satu hari yang lalu sebelum dibawa kerumah sakit,” katanya.

Setelah pagi Senin (19/1), masuk ruang ICU untuk ditangani secara intensif, pada sore hari pasien meninggal dunia. Diakibatkan adanya Sepsis atau proses infeksi, yang bisa dipengaruhi oleh pembusukan cabang bayi yang sudah lama berada di kandungan dalam kondisi tak bernyawa.

“Infeksii ini bila sudah mengenai darah, dapat menjalar ke otak, jantung dan organ tubuh lainnya. Dapat berakibat fatal bahkan kematian. Jika terkena Infeksi ini, kecil kemungkinan untuk diselamatkan,” jelasnya.

Pihaknya, tambah Rossa sudah berupaya secara intesif dalam menangani pasien. Tindakan dilakukan sesuai prosedur, tidak ada hal yang dilewatkan dalam penanganan.

“Saat itu, kita belum mengambil langkah medis. Sebab, Kita menunggu kondisi ibu kembali normal,tenang dan membaik, agar dapat dilakukan penanganan utk mengeluarkan si bayi. Sebenarnya, kondisi seperti ini, bayi dapat keluar secara spontan, tanpa dibedah,” ungkapnya.

Saat bayi keluar secara spontan, pasien sempat mengalami kejang-kejang saat melahirkan.

“Bayi dapat dikatakan premature karena baru berusia 7 bulan dalam kandungan, dan berat hanya 1,2 Kg,” jelasnya.

Untuk selanjutnya, pihak rumah sakit akan berkoordinasi dengan pihak terkait yakni organisasi atau lembaga komunitas masyarakat Kabupaten Landak untuk mencari tahu keberadaan keluarga korban.

“Pasien Ys tidak memiliki keluarga disini, sedangkan jenazah istri pasien sudah kita serahkan ke organisasi warga pantai utara untuk dimakamkan di kampungnya yakni sambas,” tukasnya. (mot)

Baca Selanjutnya Revatilasi Disiplin PNS